KAJIAN ISLAM // Jejakinvestigasi.id - Ada batas yang tidak boleh dilampaui manusia: merasa dirinya mampu memahami seluruh rahasia kehendak Allah.
Manusia boleh berbicara tentang hukum alam, pergerakan lempeng bumi, curah hujan, longsor, banjir bandang, perubahan iklim, dan berbagai faktor ilmiah lainnya. Semua itu penting. Tetapi jangan sampai penjelasan ilmiah membuat manusia kehilangan keyakinan bahwa di balik seluruh hukum alam terdapat kekuasaan Allah yang Mahamutlak.
Ketika bencana dahsyat terjadi setelah muncul tindakan penghinaan terhadap masjid dan Al-Qur’an, umat Islam tentu berhak mengambilnya sebagai peringatan keras. Bukan berarti manusia boleh memastikan, “Inilah pasti azab Allah untuk mereka.” Hakikat perkara gaib hanya Allah yang mengetahui.
Tetapi jangan pula dibalik menjadi kesombongan: “Tidak mungkin ini ada kaitannya dengan kehendak Allah karena semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah.”
Itulah kesombongan intelektual.
Allah sendiri berfirman:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak.” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini jelas memberikan pelajaran bahwa perbuatan manusia mempunyai konsekuensi. Kezaliman bukan tindakan tanpa akibat. Penghinaan terhadap kesucian agama bukan perkara yang boleh dianggap remeh. Ketika manusia berani melecehkan apa yang dimuliakan Allah, manusia seharusnya sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan kekuasaan yang tidak mungkin ditandingi.
Allah berfirman: "Dialah yang berkuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu...”(QS. Al-An’am: 65)
Perhatikan: dari atas atau dari bawah.
Ini bukan sekadar ungkapan retoris. Ayat tersebut menegaskan keluasan kekuasaan Allah. Jika Dia menghendaki, sebab datangnya azab dapat melalui jalan yang tidak pernah diperhitungkan manusia.
Maka jangan pernah merasa aman hanya karena manusia memiliki teknologi.
Gedung pencakar langit tidak membuat manusia kebal dari kehendak Allah. Sistem peringatan dini tidak membuat manusia menguasai takdir. Teknologi tidak menjadikan manusia penguasa alam semesta.
Allah mengingatkan: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari ketentuan Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?”(QS. Al-Ahzab: 17)
Jawabannya jelas: tidak ada.
Yang lebih mengerikan, Al-Qur’an mengingatkan bahwa suatu siksaan dapat menimpa bukan hanya orang-orang zalim:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.”(QS. Al-Anfal: 25)
Karena itu, jangan bermain-main dengan kezaliman. Jangan menganggap penghinaan terhadap agama sebagai tindakan tanpa konsekuensi. Jangan mengira kekuatan politik, kekuasaan, senjata, teknologi, atau jumlah manusia dapat menghalangi kehendak Allah.
Allah tidak perlu menggunakan cara yang dapat diprediksi manusia untuk menunjukkan kekuasaan-Nya.
Namun umat Islam juga harus adil. Kita tidak boleh menjadikan bencana Nepal sebagai alat untuk menghakimi seluruh rakyat Nepal atau memastikan siapa yang sedang diazab. Korban bencana bisa saja orang yang tidak bersalah, bahkan orang beriman. Bagi sebagian orang, musibah merupakan azab; bagi yang lain dapat menjadi ujian, penghapus dosa, atau jalan menuju derajat yang lebih tinggi. Hakikatnya kembali kepada Allah.
Yang harus ditakuti adalah pesan moralnya.
Jika manusia menghina masjid dan membakar Al-Qur’an, jangan heran jika umat Islam melihatnya sebagai tanda bahaya moral. Jangan menantang Tuhan, lalu merasa Tuhan tidak akan menjawab.
Sebab manusia hanya mampu menghitung kemungkinan. Allah menentukan kepastian. Manusia membaca sebab. Allah menguasai segala sebab.
Dan ketika Allah berkehendak menunjukkan kekuasaan-Nya, tidak ada satu pun kekuatan di bumi yang mampu berkata: “Jangan!” Itulah batas manusia. Dan itulah kebesaran Allah.[]
*) Penulis,
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. (Gonsus'88)
Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam Majalengka.
Lembaga Pendidikan Daarurrahman: MA, MTs., Madin, dan TPA.












