-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Aceng Syamsul Hadie (ASH): Masjid dan Al-Qur’an Dibakar di Nepal, Banjir Dahsyat Mengguncang — Antara Musibah, Peringatan, dan Introspeksi Manusia

Senin, Agustus 31, 2026 | Agustus 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-31T16:19:11Z

NEPAL - jejakinvestigasi.id  Ketua Dewan Pembina Pusat ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional) Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM  (ASH) menyatakan bahwa peristiwa pembakaran masjid dan Al-Qur’an di Nepal, yang kemudian disusul bencana banjir dahsyat, harus menjadi momentum refleksi kemanusiaan dan spiritual bagi seluruh umat manusia.


“Masjid bukan sekadar bangunan. Al-Qur’an bukan sekadar lembaran kertas. Keduanya memiliki kedudukan yang sangat sakral bagi umat Islam. Karena itu, tindakan membakar masjid dan kitab suci bukan hanya persoalan kerusakan material, tetapi merupakan tindakan yang menyentuh wilayah penghormatan terhadap keyakinan dan martabat manusia,” ujar ASH.


Menurutnya, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi tidak boleh diterjemahkan menjadi kebebasan untuk melakukan penghinaan atau kekerasan terhadap simbol-simbol agama. Kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, toleransi, dan penghormatan terhadap hak orang lain.


Namun ASH mengingatkan agar umat Islam tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan bahwa bencana banjir dahsyat yang terjadi di Nepal merupakan “azab” sebagai akibat langsung dari pembakaran masjid dan Al-Qur’an.


“Dalam perspektif iman, manusia boleh mengambil hikmah dan menjadikannya sebagai bahan introspeksi. Tetapi secara ilmiah, kita tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa suatu bencana alam tertentu adalah hukuman Tuhan atas suatu peristiwa tertentu. Itu wilayah kehendak dan pengetahuan Allah,” tegasnya.


ASH menilai justru di sinilah kedewasaan beragama diuji. Umat beragama harus mampu membedakan antara keyakinan spiritual, fakta empiris, dan opini manusia.


Bencana alam dapat dijelaskan melalui berbagai faktor ekologis dan geologis. Akan tetapi, bagi manusia beriman, setiap musibah tetap dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi: apakah manusia telah menjaga alam, menghormati sesama, dan menjalankan kehidupan dengan nilai-nilai moral?


“Jangan menjadikan musibah sebagai alat untuk menghakimi korban. Mereka yang kehilangan keluarga, rumah, dan kehidupannya adalah manusia yang harus dibantu, bukan dijadikan objek vonis,” katanya.


Menurutnya, respons yang paling tepat terhadap tragedi Nepal adalah kemanusiaan, doa, bantuan, penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan, serta penguatan toleransi antarumat beragama.


ASH juga menyerukan kepada masyarakat internasional agar tindakan penghinaan dan kekerasan terhadap tempat ibadah tidak dibiarkan menjadi pemicu konflik horizontal.


“Kalau masjid dibakar, kita harus berani mengatakan bahwa itu salah. Kalau Al-Qur’an dihancurkan, kita harus mengecamnya. Tetapi jangan membalas kebencian dengan kebencian. Jangan membalas kekerasan dengan kekerasan. Keadilan harus ditegakkan melalui hukum, bukan melalui amarah massa,” tegasnya.


Pada akhirnya, menurut ASH, tragedi Nepal memberikan satu pesan universal: manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tidak boleh kehilangan kemanusiaan.


“Masjid harus dihormati. Al-Qur’an harus dimuliakan. Tempat ibadah apa pun harus dilindungi. Dan setiap manusia, apa pun agamanya, memiliki hak untuk hidup aman dan bermartabat. Itulah inti peradaban,” pungkasnya.



Sumber: ASH 

Editor: Tim Redaksi

×
Berita Terbaru Update