-->

Notification

×

Iklan

Iklan

PSIKOLOGI, KESEJAHTERAAN, DAN MASA DEPAN PEMBANGUNAN JAWA BARAT Oleh: Prof Yoyon Suryono

Senin, September 21, 2026 | September 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-21T12:24:24Z



Ketika Pembangunan Tidak Cukup Dibaca dari Angka


Fenomena || jejakinvestigasi.id


Jawa Barat adalah wilayah yang terus bergerak. Pembangunan berjalan, ekonomi tumbuh, infrastruktur berkembang, pendidikan meluas, teknologi masuk semakin dalam ke kehidupan masyarakat. Berbagai angka statistik dapat menunjukkan perubahan itu.


Tetapi pembangunan tidak pernah hanya tentang angka.


Di balik angka pertumbuhan ekonomi ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupannya. Di balik angka pendidikan ada anak-anak yang sedang mencari masa depan. Di balik angka ketenagakerjaan ada manusia yang berharap memperoleh pekerjaan yang layak. Di balik angka kemiskinan ada rumah tangga yang setiap hari harus menentukan apa yang lebih dahulu dipenuhi: kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, atau kebutuhan lainnya.


Karena itu, pertanyaan tentang pembangunan Jawa Barat sesungguhnya tidak berhenti pada:


Seberapa tinggi pertumbuhan kita?


Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:


Apa yang terjadi pada manusia ketika pembangunan berlangsung?


Apakah mereka merasa lebih aman?

Lebih sehat?

Lebih berdaya?

Lebih memiliki kesempatan?

Lebih mampu menghadapi perubahan?

Dan yang tidak kalah penting: apakah mereka merasa hidupnya memiliki masa depan?


Di sinilah psikologi menemukan ruangnya dalam pembicaraan mengenai pembangunan.


Refleksi


Selama ini psikologi sering ditempatkan terutama dalam ruang individual: memahami perilaku, kepribadian, perkembangan manusia, kesehatan mental, hubungan interpersonal, dan berbagai persoalan kehidupan manusia.


Semua itu penting.


Namun manusia tidak pernah hidup sendirian.


Manusia hidup dalam keluarga, masyarakat, kebudayaan, lingkungan pendidikan, dunia kerja, ruang digital, sistem ekonomi, dan berbagai struktur sosial yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupannya.


Karena itu, kesejahteraan manusia tidak cukup dipahami hanya dari kondisi material.


Seseorang mungkin memiliki pekerjaan, tetapi belum tentu merasa aman.

Seseorang mungkin berpendidikan tinggi, tetapi belum tentu memiliki ruang untuk berkembang.

Sebuah keluarga mungkin tidak termasuk miskin secara statistik, tetapi tetap rentan ketika kehilangan pekerjaan atau menghadapi biaya kesehatan yang besar.

Sebuah daerah mungkin menunjukkan kemajuan ekonomi, tetapi sebagian masyarakatnya dapat saja masih menghadapi tekanan sosial, ketidakpastian, atau keterasingan.


Artinya, pembangunan memiliki dimensi psikologis.


Cara manusia memaknai kehidupan, merasakan keamanan, membangun harapan, menghadapi tekanan, mempercayai lingkungan sosial, dan melihat masa depan merupakan bagian dari kesejahteraan yang tidak boleh hilang dari perhatian pembangunan.


Di titik ini, psikologi bukan sekadar ilmu yang membantu manusia ketika masalah sudah terjadi.


Psikologi juga dapat membantu pembangunan memahami mengapa manusia merespons perubahan dengan cara tertentu, bagaimana ketahanan masyarakat terbentuk, mengapa sebagian kelompok mampu beradaptasi sementara kelompok lain semakin rentan, dan bagaimana kebijakan dapat dirasakan secara nyata oleh manusia yang menjadi sasarannya.


Refleksi Kritis


Kita perlu berhati-hati terhadap satu kebiasaan dalam pembangunan: terlalu cepat merasa berhasil karena angka menunjukkan kemajuan.


Angka memang penting.


Tetapi angka adalah pintu masuk untuk memahami realitas, bukan pengganti realitas itu sendiri.


Rata-rata dapat memperlihatkan gambaran umum, tetapi rata-rata juga dapat menyembunyikan perbedaan. Di antara kabupaten dan kota di Jawa Barat terdapat kondisi sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kualitas kehidupan dasar yang tidak sama.


Karena itu, membaca kesejahteraan Jawa Barat tidak cukup dengan mencari siapa yang memiliki angka tertinggi dan siapa yang terendah.


Yang lebih penting adalah menemukan pola kehidupan di balik angka tersebut.


Di sinilah diperlukan perjumpaan antara data dan pengalaman manusia.


Data dapat memberi tahu kita tentang kondisi.

Penelitian dapat membantu menjelaskan hubungan antar-keadaan.

Psikologi membantu membaca manusia yang mengalami keadaan tersebut.

Masyarakat memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana kebijakan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.


Dari sana pembangunan dapat bergerak dari sekadar mengukur hasil menuju memahami perubahan.


Pertanyaan pembangunan pun perlu bergeser.


Bukan hanya:


“Apa yang sudah dilakukan?”


melainkan:


“Apa yang benar-benar berubah dalam kehidupan manusia?”


Perubahan itulah yang seharusnya menjadi ukuran penting keberhasilan pembangunan.


Jawa Barat membutuhkan pembangunan yang tidak hanya membangun jalan, gedung, kawasan industri, pusat ekonomi, atau sistem digital, tetapi juga membangun manusia yang mampu hidup dengan sehat, belajar, bekerja, beradaptasi, membangun hubungan sosial, menghadapi perubahan, dan memiliki harapan terhadap masa depan.


Karena itu, ilmu psikologi memiliki peluang untuk hadir lebih dekat dengan persoalan pembangunan.


Bukan untuk mengambil alih peran bidang ilmu lain.


Melainkan untuk memperkaya cara kita memahami manusia.


Simpul Hikmah


Pada akhirnya, pembangunan adalah tentang manusia.


Angka diperlukan agar kita tidak berjalan tanpa arah. Data diperlukan agar kebijakan tidak dibangun hanya berdasarkan dugaan. Ilmu diperlukan agar persoalan dapat dipahami dengan lebih jernih.


Tetapi semua itu harus kembali kepada satu pertanyaan sederhana:


Apakah pembangunan membuat manusia semakin mampu menjalani kehidupannya dengan bermartabat?


Jika jawabannya belum jelas, maka pekerjaan pembangunan belum selesai.


Jawa Barat tidak hanya membutuhkan manusia yang produktif.


Jawa Barat membutuhkan manusia yang sehat, berdaya, tangguh, memiliki harapan, mampu hidup bersama, dan merasa bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.


Maka psikologi tidak semestinya berdiri di pinggir pembangunan.


Ia dapat menjadi salah satu cara untuk membaca manusia dari dalam kehidupannya sendiri.


Sebab pembangunan yang kehilangan manusia mungkin tetap dapat menunjukkan angka keberhasilan.


Tetapi pembangunan yang benar-benar berhasil adalah pembangunan yang dirasakan manusia sebagai kehidupan yang semakin baik.



*)Panglawungan — Saung Sisi Cirumput

Majalengka, September 2026

×
Berita Terbaru Update