Satu Abad Gontor Menembus Peradaban Dunia
Oleh Aceng dan Jamai
Gonsus'88
Bukan menara itu yang menjulang tinggi,
melainkan cita-cita yang mengalahkan langit.
Bukan seratus tahun yang kita rayakan,
melainkan keikhlasan yang tak pernah menua.
Sebab peradaban tidak dibangun oleh batu,
tetapi oleh hati yang dipahat ilmu,
oleh akhlak yang ditempa pengorbanan,
dan oleh manusia yang memilih mengabdi daripada dipuji.
Di Gontor, waktu bukan sekadar perjalanan,
melainkan asrama yang menguji kesabaran.
Setiap fajar adalah janji,
setiap senja adalah muhasabah.
Di sana, pena lebih mulia daripada pedang,
doa lebih tajam daripada amarah,
dan persaudaraan menjadi bahasa
yang dipahami oleh seluruh umat manusia.
Wahai anak-anak zaman,
jangan warisi dunia dengan kebencian.
Jangan jadikan perbedaan sebagai tembok,
karena Allah menciptakan keberagaman
agar manusia saling mengenal, bukan saling meniadakan.
Bangunlah jembatan ilmu,
eratkan tangan persaudaraan,
sebab hanya hati yang bersatu
mampu mengubah sejarah.
Ketahuilah, peradaban yang agung
tidak pernah lahir dari kesombongan,
tetapi dari kerendahan hati untuk terus belajar.
Tidak dibangun oleh mereka yang gemar mencaci,
tetapi oleh mereka yang rela berkorban.
Ilmu tanpa adab hanyalah kesombongan
yang pandai berbicara,
sedangkan adab tanpa ilmu adalah cahaya
yang kehilangan arah.
Gontor mengajarkan keduanya
berjalan beriringan.
namun obor itu belum padam.
Ia berpindah dari tangan guru kepada santri,
dari santri kepada alumni,
dari alumni kepada umat dan bangsa.
Api itu bukan untuk membakar, melainkan
menerangi jalan agar manusia
tidak tersesat dalam gelapnya zaman.
Mari berdiri dalam satu saf persaudaraan.
Bukan karena warna kulit, suku, bahasa,
ataupun golongan,
tetapi karena iman, ilmu, dan kemanusiaan.
Persatuan bukan sekadar slogan yang diteriakkan,
melainkan amanah yang diperjuangkan.
Karena bangsa yang tercerai akan menjadi lemah,
sedangkan umat yang bersaudara
akan menjelma kekuatan
yang tak mudah dipatahkan.
Maka, wahai Gontor, teruslah melangkah.
Jangan lelah menanam benih peradaban
di setiap jiwa yang haus akan kebenaran.
Teruslah melahirkan manusia
yang berpikir dengan akal,
berjalan dengan adab, berjuang dengan keikhlasan,
dan memimpin dengan kasih sayang.
Sebab dunia sedang menunggu cahaya
yang lahir dari insan-insan berkarakter.
Dan ketika kelak sejarah
kembali membuka lembarannya,
biarlah dunia mencatat dengan tinta emas:
bahwa dari sebuah pesantren di bumi Nusantara
lahir gelombang yang menembus batas benua,
bahasa, dan zaman.
Gelombang ilmu yang mempersatukan,
gelombang akhlak yang memuliakan,
gelombang persaudaraan yang
menguatkan peradaban.
Itulah Gontor—seratus tahun menembus dunia, dan selamanya mengabdi untuk peradaban dunia.
___&&&___











