-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Reuni SMP 1 Angkatan '80: Memahami Substansi Ukhuwah Islamiah Jangan Sebatas Slogan Oleh Aceng Syamsul Hadie*

Minggu, Agustus 30, 2026 | Agustus 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-30T06:52:54Z

 



Ukhuwah Islamiah sering kali dikumandangkan sebagai simbol persatuan umat Islam. Ia hadir dalam ceramah, forum keagamaan, momentum politik, bahkan dalam berbagai pernyataan publik. Namun persoalannya, apakah ukhuwah benar-benar telah menjadi nilai yang hidup dalam perilaku sosial, atau justru berhenti sebagai slogan yang indah diucapkan tetapi miskin dalam praktik?


Secara filosofis, ukhuwah Islamiah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar persaudaraan berdasarkan kesamaan agama. Ia mengandung prinsip kesetaraan martabat manusia, kepedulian, keadilan, kasih sayang, saling menghormati, dan kesediaan untuk menanggung beban bersama. Persaudaraan dalam Islam tidak dibangun atas dasar kepentingan sesaat, melainkan atas kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral kepada Allah sekaligus tanggung jawab sosial kepada sesama.


Karena itu, ukhuwah kehilangan substansinya apabila seseorang menyerukan persatuan tetapi pada saat yang sama merendahkan, memfitnah, mendiskriminasi, atau memusuhi saudaranya hanya karena perbedaan pilihan politik, organisasi, mazhab, kepentingan, atau pandangan sosial. Persaudaraan yang sejati justru diuji ketika perbedaan muncul.


Dalam perspektif filosofis, ukhuwah juga menuntut transformasi dari egoisme menuju solidaritas. Manusia tidak boleh melihat dirinya sebagai pusat dari seluruh kepentingan. Ada kepentingan orang lain yang harus dihormati. Dengan demikian, ukhuwah bukan hanya persoalan hubungan horizontal antarmanusia, tetapi juga manifestasi dari kesadaran spiritual bahwa setiap tindakan terhadap sesama memiliki dimensi pertanggungjawaban moral.


Secara sosiologis, ukhuwah berfungsi sebagai modal sosial yang dapat memperkuat kohesi masyarakat. Masyarakat yang memiliki rasa saling percaya, kepedulian, gotong royong, dan solidaritas akan lebih mampu menghadapi konflik serta persoalan sosial. Sebaliknya, ketika ukhuwah hanya menjadi retorika, masyarakat mudah terfragmentasi oleh politik identitas, fanatisme kelompok, kepentingan ekonomi, maupun perebutan pengaruh.


Ironisnya, slogan persatuan terkadang justru digunakan untuk membungkam kritik. Atas nama ukhuwah, seseorang diminta diam terhadap ketidakadilan. Atas nama persaudaraan, penyimpangan ditoleransi. Padahal, membela kebenaran dan mencegah kemungkaran merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral umat. Ukhuwah seharusnya tidak menjadi tameng untuk melindungi kesalahan, melainkan menjadi energi untuk memperbaiki keadaan dengan cara yang bermartabat.


Ukhuwah juga tidak berarti menghilangkan perbedaan. Persaudaraan yang matang justru mampu mengelola perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling meniadakan. Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan kehidupan sosial. Yang harus dibangun adalah etika dalam berbeda: argumentatif tanpa menghina, kritis tanpa membenci, dan tegas tanpa kehilangan adab.


Dengan demikian, ukuran keberhasilan ukhuwah bukan seberapa sering istilah itu diteriakkan, tetapi seberapa nyata nilai-nilainya hadir dalam kehidupan. Apakah yang lemah dibela? Apakah yang berbeda dihormati? Apakah keadilan ditegakkan? Apakah konflik diselesaikan melalui dialog? Apakah kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan kelompok?


Pada akhirnya, ukhuwah Islamiah harus turun dari mimbar menuju kehidupan nyata. Ia harus hadir dalam tindakan sosial, keadilan, solidaritas, kepedulian terhadap kaum lemah, serta keberanian memperjuangkan kebenaran.


Sebab persaudaraan yang hanya hidup dalam slogan adalah retorika. Tetapi persaudaraan yang diwujudkan dalam keadilan, kasih sayang, solidaritas, dan tanggung jawab sosial adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai Islam.[]


*) Penceramah, 

Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM

Ketua Umum Yayasan Daarurrahman Cigayam.

×
Berita Terbaru Update