-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Anggaran Rp2 Miliar Lebih, Pembangunan SDN 1 Jagabaya Garut Dikritik; Warga Tak Dilibatkan, Transparansi Dipertanyakan

Jumat, Agustus 28, 2026 | Agustus 28, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-28T04:09:40Z


GARUT  //  Jejakinvestigasi.id, Pembangunan gedung SDN 1 Jagabaya di Kampung Lancar, Desa Jagabaya, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, yang menelan anggaran disebut mencapai Rp2 miliar lebih, justru menuai kekecewaan warga setempat. Proyek yang semestinya membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dinilai berjalan tanpa keterbukaan, bahkan warga merasa diabaikan dalam penyerapan tenaga kerja maupun pemasokan material pembangunan.

 

Berdasarkan pantauan dan informasi yang dihimpun awak media pada 27 Agustus 2026, sejumlah tenaga kerja yang tampak bekerja di lokasi pembangunan justru banyak berasal dari luar wilayah Desa Jagabaya. Padahal, pembangunan berlangsung tepat di tengah lingkungan warga setempat. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa proyek bernilai miliaran rupiah tidak membuka peluang ekonomi bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi?

 

Belum Ada Tembusan Resmi ke Pemerintah Desa

 

Kekecewaan warga semakin dipertegas dengan ketidakjelasan informasi terkait pelaksana proyek. Kepala Desa Jagabaya, Yayan Suryana, disebut belum mengetahui secara pasti identitas perusahaan atau CV yang menjadi pelaksana pekerjaan. Hingga kini, belum ada tembusan resmi dari pihak pengelola maupun pelaksana pembangunan kepada Pemerintah Desa Jagabaya terkait keberadaan proyek tersebut.

 

Ketidakjelasan ini menjadi sorotan tajam, terlebih apabila proyek menggunakan anggaran negara. Transparansi mengenai siapa pelaksana, sumber anggaran, nilai kontrak, hingga mekanisme pelaksanaan seharusnya dapat diketahui dan diawasi oleh masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Warga Minta Dilibatkan, Tak Ingin Hanya Jadi Penonton

 

Salah satu suara yang paling lantang disampaikan oleh Ketua Karang Taruna Desa Jagabaya. Ia secara khusus meminta kepada Kepala SDN 1 Jagabaya, Jalaluddin, agar warga lokal diberi kesempatan berperan dalam proyek tersebut, baik sebagai tenaga kerja maupun pemasok material pembangunan.

 

“Kami meminta agar warga setempat diperhatikan, baik untuk tenaga kerja maupun penyuplai bahan. Kalau kebutuhan material bisa diperoleh dari toko milik warga setempat, tentu akan membantu perekonomian masyarakat,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika pembangunan bernilai miliaran rupiah berlangsung di lingkungan mereka sendiri. Lebih dari sekadar soal siapa yang bekerja, masyarakat menginginkan pembangunan sekolah ini benar-benar memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi warga sekitar.

 

Dorongan Transparansi dan Pengawasan

 

Pihak terkait didorong untuk memastikan seluruh proses pembangunan berjalan transparan, sesuai spesifikasi teknis, kontrak, serta ketentuan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Masyarakat juga berharap tidak ada penyimpangan dalam penggunaan anggaran, baik dalam pekerjaan fisik maupun pengadaan material. Jika terdapat dugaan pelanggaran atau ketidaksesuaian, warga meminta instansi berwenang melakukan pemeriksaan secara objektif dan menyeluruh.

 

“Jangan sampai pembangunan sekolah yang anggarannya mencapai miliaran rupiah berdiri di tengah masyarakat, tetapi masyarakat setempat justru tidak mendapatkan manfaat ekonomi yang layak,” demikian keresahan yang disampaikan warga.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek maupun Kepala SDN 1 Jagabaya belum memberikan penjelasan secara resmi terkait mekanisme perekrutan tenaga kerja, pemasok material, identitas perusahaan/CV pelaksana, serta alasan minimnya keterlibatan warga setempat.

 

 

 

Catatan Redaksi:

Awak media membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak sekolah, pelaksana proyek, pemerintah desa, maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan secara berimbang.

 


Jurnalis:

Asep Suherman (Gawaris)

×
Berita Terbaru Update