![]() |
| Ketua Yayasan Pancar Kalijati Nusantara, Iwan Gunawan, (Doc.Photo/Red/yh) |
MAJALENGKA || Jejakinvestigasi.id – Lapas Kelas IIB Majalengka resmi menggelar pembukaan Program Pendidikan Kesetaraan Paket B dan C sekaligus peresmian Pesantren Bina Santri Al-Awwabin. Langkah strategis ini menjadi bukti nyata komitmen Lapas Majalengka dalam membekali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) agar siap kembali ke masyarakat dengan penuh percaya diri, membawa ijazah pendidikan formal sekaligus pondasi ilmu agama yang kokoh. Jumat (24/07)
Acara yang berlangsung khidmat di lingkungan Lapas Kelas IIB Majalengka ini dihadiri jajaran pejabat daerah dan mitra strategis, antara lain Ketua DPRD Kabupaten Majalengka, Kepala Dinas Pendidikan yang hadir mewakili Bupati Majalengka, Kepala Dinas Sosial, Ketua Yayasan Pancar Kalijati Nusantara selaku pembina PKBM Dharmawangsa Nusantara, para pemangku kepentingan, insan media, serta tokoh masyarakat.
Sejalan Asta Cita & Program Pemasyarakatan
Dalam sambutannya, Kepala Lapas (Kalapas) Majalengka, Rian Firmansyah, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud nyata penerapan Asta Cita Presiden yang diterjemahkan dalam Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Nomor 11, yaitu penyelenggaraan pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan.
"Kami ingin memastikan setiap warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, melainkan pulang membawa bekal nyata untuk membuka lembaran baru kehidupan," ujarnya.
Klik Juga Video Dibawah ini:
Harapan Kemanusiaan & Kepedulian Luas
Ketua Yayasan Pancar Kalijati Nusantara, Iwan Gunawan, menyatakan pelaksanaan program ini dilandasi rasa kemanusiaan dan kepedulian mendalam. Menurutnya, banyak warga binaan terjerat hukum karena situasi keterpaksaan hidup. Program ini diharapkan menjadi ruang harapan dan bekal bermakna bagi masa depan mereka, bahkan terbuka peluang hingga jenjang kuliah dengan dukungan beasiswa Universitas Terbuka (UT).
Namun Iwan Gunawan juga menyoroti sisi lain yang belum banyak tersentuh: nasib keluarga yang ditinggalkan. "Warga binaan di dalam terjamin makan dan pendidikannya, tapi siapa yang mengurus istri dan anak-anak mereka di luar? Banyak di antara mereka yang berbuat salah karena lapar, terjepit kebutuhan hidup. Ada pepatah: 'Kepakiran itu membawa ke kupuran', atau kadang yang berniat baik pun tergelincir karena keadaan," tegasnya.
Ia meminta Dinas Sosial Kabupaten dan Provinsi Jawa Barat, serta BAZNAS untuk lebih memperhatikan keluarga warga binaan. Selain itu, ia mengimbau kepolisian dan kejaksaan untuk lebih mengedepankan Keadilan Restoratif—pendekatan yang mengutamakan kekeluargaan dan musyawarah—serta menerapkan KUHP dan KUHAP dengan sebaik-baiknya. "Hati-hati, setiap tanda tangan pejabat berkenaan dengan nasib masyarakat dan keluarganya," tambahnya.
"Kami siap membantu mereka yang telah selesai masa pembinaan agar diterima kembali di masyarakat dan mendapatkan pekerjaan. Kepada warga binaan: setelah selesai, niatkan untuk berubah lebih baik, berbakti pada keluarga yang telah bersusah payah menanggung beban, dan berjanji untuk membahagiakan mereka. Bina diri, jaga negeri," pesannya.
Apresiasi Pemerintah Daerah & DPRD
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Rd. M. Umar Ma'ruf, mengapresiasi inisiatif ini dan menyatakan sejalan dengan visi daerah menuju masyarakat langkung sae melalui peningkatan kualitas pendidikan. Pihaknya berkomitmen mendukung keberlanjutan program ini.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Majalengka, Didi Supriadi, menyambut baik langkah ini dan berjanji menindaklanjuti berbagai keresahan yang ada. Ia memuji kemajuan Lapas Majalengka yang tidak hanya menghasilkan produk kreatif warga binaan, tapi juga mengasah bakat seni dan kesiapan mereka berbaur kembali di tengah masyarakat.
Pendidikan Umum & Agama Beriringan
Melalui kerja sama dengan PKBM Dharmawangsa Nusantara, warga binaan kini dapat menempuh pendidikan setara SMP (Paket B) hingga SMA (Paket C) dengan ijazah resmi yang diakui negara. Beriringan dengan itu, Pesantren Bina Santri Al-Awwabin hadir untuk menempa karakter, memperbaiki akhlak, dan memperdalam ilmu agama.
Rangkaian acara ditutup dengan penampilan seni memukau dari warga binaan, mulai dari Tari Bubuy Bulan hingga penampilan Band Lapas Majalengka, membuktikan bahwa keterbatasan ruang tidak memadamkan kreativitas dan bakat mereka.**
Jurnalis: Yudi Hidayat
Mitra Humas Polda Jabar











