Notification

×

Iklan

Iklan

Ramadhan: Sekolah Manajemen Diri dan Fondasi Kemenangan Sosial

Minggu, Februari 15, 2026 | Februari 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T22:51:07Z

 

Oleh KH. Muhammad Abdan Syakuro, S.Ag. Ketua MUI Kundur Barat di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.


Jejakinvestigasi.id ||  Jakarta - Ramadhan sering dipahami sebatas ritual tahunan yang berkaitan dengan ibadah personal: puasa, tarawih, dan zakat. Padahal, Ramadhan sesungguhnya adalah sekolah besar peradaban—sebuah sistem pendidikan spiritual dan sosial yang melatih manusia mengelola diri, keluarga, hingga kehidupan bernegara. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan serius dalam manajemen keinginan.


Puasa dimulai sejak dini hari dengan niat dan imsak. Di titik ini, manusia dilatih menahan sesuatu yang paling dasar: makan, minum, dan syahwat. Inilah tahap awal pengendalian diri. Keinginan adalah sumber banyak persoalan manusia—konflik, keserakahan, ketimpangan, bahkan kerusakan lingkungan. Ramadhan hadir sebagai momen reflektif untuk menundukkan “ingin” di bawah kendali nilai dan kesadaran.


Berbuka puasa mengajarkan pelajaran yang tak kalah penting. Disunahkan berbuka dengan sederhana: air, makanan ringan, tiga butir kurma. Pesan moralnya jelas—baik jelata maupun raja memiliki wadah keinginan yang sama: perut yang sama. Di hadapan lapar dan dahaga, hierarki sosial runtuh. Ramadhan mengingatkan bahwa ketimpangan bukan kodrat, melainkan hasil kegagalan manusia mengelola keinginan dan sumber daya.


Al-Qur’an bahkan memberikan ilustrasi historis tentang makna pengendalian diri melalui kisah tentara Thalut. Ketika dihadapkan pada sungai, hanya mereka yang mampu menahan diri untuk tidak minum berlebihan yang akhirnya bertahan dan menang. Pesannya tegas: kemenangan tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak mengonsumsi, tetapi siapa yang paling mampu menahan diri. Ini adalah prinsip universal yang relevan bagi kehidupan pribadi maupun tata kelola negara.


Idul Fitri, yang menutup Ramadhan, bukan sekadar pesta kemenangan. Ia adalah simbol keberhasilan melawan hawa nafsu dan berdamai dengan diri sendiri. Kemenangan sejati bukan diukur dari limpahan sumber daya, melainkan dari kemampuan mengelolanya secara adil, bijak, dan berkelanjutan. Dalam konteks sosial dan politik, bangsa yang gagal mengelola keinginan elite-nya akan terjebak dalam krisis, meski kaya akan sumber daya alam.


Hikmah terbesar Ramadhan adalah lahirnya kesadaran kolektif. Puasa dijalankan secara berjamaah, dengan aturan waktu yang sama, tujuan yang sama, dan disiplin yang sama. Ini adalah latihan sosial tentang kepatuhan pada kesepakatan bersama—sebuah fondasi penting bagi demokrasi, keadilan sosial, dan tata kelola pemerintahan yang sehat.


Siapa yang berhasil mengelola keinginannya, berarti ia telah selesai dengan dirinya sendiri. Siapa yang selesai dengan dirinya, akan mampu memberi manfaat bagi keluarganya. Dan siapa yang mampu melampaui lingkaran keluarga, ia akan bereskalasi memberi manfaat bagi umat dan bangsanya.


Pada akhirnya, nilai tertinggi manusia bukanlah apa yang ia miliki, melainkan sejauh mana ia memberi manfaat bagi orang lain. Dan Ramadhan, melalui puasa, adalah jalan sunyi menuju kesadaran itu.[]


×
Berita Terbaru Update