Notification

×

Iklan

Iklan

BAZNAS Sumedang Perkuat Strategi Penanggulangan Bencana

Sabtu, Februari 14, 2026 | Februari 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T00:19:03Z

 


Jejakinvestigasi.id || Sumedang - Derap langkah itu tak selalu terdengar riuh. Namun ketika bencana datang, mereka hadir paling awal dan pulang paling akhir. Itulah Barisan Tanggap Bencana (BTB) BAZNAS Kabupaten Sumedang, unit respons cepat yang tak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga strategi dan ketepatan perlengkapan.


Di balik setiap aksi penyelamatan, ada perencanaan yang matang. Bagi BTB BAZNAS Sumedang, medan yang berbeda menuntut pendekatan yang berbeda pula. Penanganan korban banjir tentu tak bisa disamakan dengan evakuasi di tebing curam atau longsor di wilayah perbukitan. Semua membutuhkan keahlian, koordinasi, serta alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.


“Dalam penanggulangan bencana tidak bisa disamaratakan. Karakter bencana berbeda-beda, begitu juga risikonya. Maka bantuan yang diberikan pun harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan,” ujar Apih, salah seorang pegawai BAZNAS Sumedang yang aktif dalam kegiatan kebencanaan.


Menurutnya, respons cepat saja tidak cukup. Ketepatan analisis menjadi faktor krusial agar bantuan benar-benar menjawab kebutuhan korban. Pada bencana banjir misalnya, distribusi logistik dan perahu karet menjadi prioritas. Sementara pada longsor atau evakuasi di tebing, peralatan tali-temali, helm keselamatan, hingga teknik vertical rescue menjadi kebutuhan utama.


BTB BAZNAS Sumedang, lanjut Apih, terus meningkatkan kapasitas personel melalui pelatihan rutin dan simulasi lapangan. “Kami tidak ingin hanya reaktif. Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi,” katanya.


Ketua BAZNAS Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, menegaskan, gerakan kebencanaan yang dilakukan BTB merupakan wujud nyata amanah zakat yang dikelola lembaganya. Dana umat, menurut dia, harus hadir di titik-titik paling rentan ketika masyarakat membutuhkan.


“BAZNAS bukan hanya lembaga penghimpun zakat, tetapi juga lembaga kemanusiaan. Setiap rupiah yang dititipkan masyarakat harus kembali dalam bentuk kebermanfaatan yang terukur, termasuk dalam situasi darurat kebencanaan,” ujar H. Ayi Subhan Hafas.


Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan BTB tidak hanya bersifat tanggap darurat, tetapi juga mencakup pemulihan pascabencana. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan riil korban, mulai dari logistik, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial.


“Beda medan, beda penanganan. Karena itu kami memastikan tim dibekali peralatan yang tepat dan kemampuan yang memadai. Kami ingin hadir bukan sekadar membantu, tetapi benar-benar meringankan beban masyarakat,” tuturnya.


Di tengah meningkatnya potensi bencana akibat perubahan cuaca dan kondisi geografis Sumedang yang beragam, keberadaan BTB menjadi bagian penting dari ekosistem kebencanaan daerah. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan relawan, terus diperkuat demi mempercepat respons dan memperluas jangkauan layanan.


BAZNAS Sumedang pun mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga resmi tersebut. Partisipasi publik menjadi energi utama agar gerakan kemanusiaan terus berjalan dan semakin kuat.


Sebab pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya soal tim penyelamat. Ia adalah ikhtiar kolektif dari umat, untuk umat, agar setiap musibah dapat dihadapi dengan lebih tangguh dan penuh harapan.**



Liputan: (Mulyana)

×
Berita Terbaru Update