![]() |
Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si. Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh |
Media Jejakinvestigasi.id ||
Jakarta - Di tengah hiruk pikuk modernitas dan derasnya arus informasi yang seringkali memecah belah, gagasan tentang Gotra Sawala kembali menyeruak, menawarkan sebuah oase refleksi atas esensi musyawarah dan kearifan kolektif yang telah lama tertanam dalam jiwa Nusantara. Konsep ini, yang secara harfiah merujuk pada "pertemuan musyawarah kelompok" dalam tradisi Sunda, bukan sekadar sebuah istilah usang dari masa lalu, melainkan sebuah blueprint sosial yang relevan untuk membangun fondasi masyarakat yang lebih kokoh dan harmonis di masa depan. Menariknya, ide untuk menghidupkan kembali tradisi ini dalam bentuk kontemporer baru-baru ini digagas oleh budayawan terkemuka, Franki Raden, dalam sebuah diskusi dengan warga Indonesia di Amsterdam pada tanggal 10 Juli 2025, yang menegaskan urgensi revitalisasi nilai-nilai luhur ini.
Sejarah Gotra Sawala berakar kuat pada tradisi musyawarah dan rembug desa yang menjadi tulang punggung tatanan sosial masyarakat Sunda. Sejak dahulu kala, masyarakat Nusantara telah mengenal berbagai bentuk forum deliberatif untuk menyelesaikan perselisihan, merumuskan kebijakan komunal, atau sekadar bertukar pikiran demi kemaslahatan bersama. Gotra Sawala menjadi manifestasi dari semangat kebersamaan ini, di mana suara dari berbagai "gotra" atau kelompok, termasuk para sesepuh, tokoh adat, cendekiawan, hingga generasi muda, dipertemukan untuk mencapai "sawala" atau kesepakatan yang bijaksana. Tujuan utamanya adalah menjaga harmoni sosial, melestarikan nilai-nilai budaya, dan memastikan keberlanjutan hidup bermasyarakat yang adil dan beradab.
Rujukan sejarah yang paling signifikan mengenai Gotra Sawala ditemukan dalam Naskah Wangsakerta, sebuah mahakarya historiografi yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon beserta timnya pada abad ke-17. Meskipun keberadaan dan keaslian naskah ini masih menjadi subjek perdebatan sengit di kalangan sejarawan modern karena beberapa anomali, konsep "Gotrasawala" yang digambarkan di dalamnya tetap memberikan gambaran yang kaya tentang praktik intelektual di masa lalu. Dalam konteks Naskah Wangsakerta, Gotrasawala adalah sebuah simposium akbar yang mengumpulkan para ahli sejarah dan pujangga dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka bertemu untuk saling berbagi temuan, menyelaraskan narasi, dan menyusun catatan sejarah yang komprehensif tentang raja-raja dan kerajaan di bumi Nusantara. Ini menunjukkan bahwa Gotra Sawala tidak hanya terbatas pada musyawarah sosial, tetapi juga mencakup forum intelektual tingkat tinggi yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menyintesis pengetahuan kolektif. Deskripsi ini mengukuhkan bahwa gagasan tentang forum deliberatif berbasis keilmuan memiliki preseden historis yang kuat di Nusantara.
Dalam perjalanan waktu, seiring dengan perubahan struktur sosial dan masuknya pengaruh modernitas, praktik Gotra Sawala dalam bentuk aslinya mungkin meredup di beberapa tempat. Namun, esensinya tetap hidup dalam berbagai bentuk musyawarah dan diskusi di komunitas-komunitas adat. Di era kontemporer, "Gotra Sawala" juga telah diadopsi sebagai nama untuk berbagai acara kebudayaan, festival seni, dan seminar akademik, khususnya di Jawa Barat. Festival Gotra Sawala, misalnya, diselenggarakan untuk memperkuat jati diri budaya Indonesia, melestarikan bahasa dan sastra daerah, serta merangsang kreativitas seni di kalangan masyarakat. Demikian pula, di lingkungan kampus seperti Universitas Padjadjaran, istilah ini digunakan untuk diskusi ilmiah yang bersifat lintas disiplin, menunjukkan bahwa semangat Gotra Sawala dapat beradaptasi dengan konteks zaman.
Inilah poin krusial yang diangkat oleh Franki Raden dalam diskusinya di Amsterdam. Beliau tidak hanya melihat Gotra Sawala sebagai artefak sejarah atau sekadar nama festival, melainkan sebagai sebuah paradigma fundamental untuk mengatasi tantangan-tantangan kompleks di Indonesia saat ini. Franki Raden mengamati bahwa di tengah fragmentasi sosial, polarisasi politik, dan banjir informasi yang disinformasi, masyarakat Indonesia membutuhkan kembali ruang-ruang dialog yang otentik dan konstruktif. Ia menggagas bahwa Gotra Sawala harus dihidupkan kembali bukan sebagai replika persis dari masa lalu, tetapi sebagai sebuah tradisi kontemporer yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21.
Menurut Franki Raden, Gotra Sawala kontemporer harus menjadi wadah inklusif di mana berbagai komponen bangsa, mulai dari akademisi, seniman, aktivis, pemimpin agama, pengusaha, hingga masyarakat umum, dapat bertemu tanpa sekat-sekat ideologis atau politik yang sempit. Forum ini bukan bertujuan untuk mencapai kemenangan debat, melainkan untuk mempertemukan berbagai perspektif, mencari titik temu, dan merumuskan solusi bersama atas masalah-masalah kebangsaan, mulai dari isu-isu lingkungan, pendidikan, keadilan sosial, hingga pelestarian budaya. Esensinya adalah mendengarkan secara mendalam, memahami perbedaan, dan membangun konsensus berdasarkan kearifan kolektif, bukan dominasi mayoritas atau kepentingan segelintir kelompok.
Revitalisasi Gotra Sawala, sebagaimana diidealkan oleh Franki Raden, berarti menciptakan kembali budaya dialog yang sehat di ruang publik. Ini melibatkan kesediaan untuk merendahkan hati, membuka pikiran, dan menanggalkan ego demi kepentingan yang lebih besar. Forum ini harus menjadi tempat di mana argumen berbasis data dan nalar dihargai, pengalaman hidup diakui sebagai sumber pengetahuan, dan nilai-nilai etika dan moral menjadi panduan utama dalam setiap pembahasan. Dengan demikian, Gotra Sawala dapat berfungsi sebagai "benteng budaya" yang kokoh, tidak hanya dalam arti melestarikan seni dan tradisi, tetapi juga dalam membangun karakter bangsa yang beradab, inklusif, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.
Penerapan Gotra Sawala dalam konteks kontemporer bisa beragam bentuknya: bisa dalam bentuk seminar reguler yang melibatkan lintas sektor, forum komunitas online yang dimoderasi secara bijak, hingga pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan publik dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Intinya adalah bagaimana membangun ekosistem dialog yang memupuk rasa saling percaya, empati, dan tanggung jawab bersama. Dengan menghidupkan kembali semangat Gotra Sawala, Indonesia memiliki kesempatan untuk kembali menemukan kekuatan tersembunyi dalam tradisi musyawarahnya, mengubah tantangan menjadi peluang, dan membangun masa depan yang lebih cerah, sejalan dengan kearifan yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Gagasan Franki Raden ini bukan hanya sekadar nostalgia, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak, sebuah investasi dalam pembangunan sosial dan intelektual yang berkelanjutan bagi bangsa. **