![]() |
| Tampak Depan PT AJINOMOTO CIPERNA CIREBON (Doc.Photo //Red) |
Jejakinvestigasi.id || CIREBON – Menyusul pemberitaan terkait dugaan pengambilan air bawah tanah tanpa izin, kini muncul pertanyaan lain dari warga sekitar terkait keanehan yang terjadi di lokasi PT Ajinomoto Cabang Ciperna, Kabupaten Cirebon. Meski sudah beroperasi lebih dari 25 tahun, perusahaan ini diduga tidak pernah memasang papan nama atau plang identitas perusahaan di bagian depan lokasi.
PT Ajinomoto yang beralamat di Jalan Raya Ciperna Kilometer 7, Kabupaten Cirebon, sebelumnya sudah diduga kuat memanfaatkan air tanah melalui sumur bor tanpa memiliki izin resmi lebih dari satu dekade. Informasi awal ini terungkap dari narasumber yang menyampaikan aduan ke kantor hukum H. Agus Brow Supriyanto, SH, dan enggan menyebutkan identitasnya pada Selasa (07/07).
KELUHAN BERUNTUN WARGA SEKITAR
Kini awak media menerima keluhan langsung dari salah satu warga yang tinggal persis berbatasan dengan lokasi perusahaan pada Sabtu (11/7):
"Saya warga yang berdekatan dengan gudang Ajinomoto, rumah saya tepat menempel di tembok batas perusahaan. Selama ini mereka tidak pernah ada komunikasi sama sekali dengan lingkungan sekitar," ujarnya.
Selain soal identitas perusahaan yang samar dan tertutup, warga juga mengaku kecewa karena keberadaan pabrik besar justru tidak membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar.
"Susah sekali jika diminta bantuan sosial. Begitu juga dengan PT Garuda Mas, tidak ada kepedulian sama sekali terhadap warga. Adanya perusahaan di sini seolah tidak ada manfaatnya bagi lingkungan maupun kami warga sekitar," keluhnya.
MASALAH LIMBAH, BANJIR, DAN KESELAMATAN
Keluhan warga tidak berhenti pada Ajinomoto dan Garuda Mas. PT Samator juga disoroti terkait dugaan pengelolaan lingkungan yang buruk dan minim komunikasi:
"PT Samator pun sama, tidak pernah ada komunikasi dengan warga terkait saluran pembuangan air. Setiap kali hujan, air dari area perusahaan mengalir ke arah belakang dan membanjiri perumahan warga. Kalau hujan deras, rumah kami di bagian belakang selalu tergenang luapan air dari lokasi perusahaan," ungkapnya.
Terkait PT Garuda Mas, warga juga mempertanyakan kelayakan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) serta kejelasan perizinan dan keselamatan jalan:
"Di akses keluar pintu masuk tol dekat lokasi Garuda Mas tidak ada marka jalan, sangat rawan kecelakaan. Minimal harus ada garis putih penghambat kecepatan kendaraan. Izin lingkungannya pun belum jelas, tiba-tiba saja sudah membangun garasi yang ukurannya sangat besar di sana," tambahnya.
HARAPAN AGAR DITINDAK LANJUT
Warga berharap seluruh keluhan ini tidak hanya berhenti di isu air tanah, namun instansi terkait segera memeriksa kejelasan legalitas, kewajiban tanggung jawab sosial, pengelolaan lingkungan, serta keselamatan umum di sekitar kawasan industri Ciperna.
Awak media akan terus memantau perkembangan dan berupaya meminta tanggapan resmi dari pihak perusahaan maupun dinas berwenang.
Jurnalis: Mitra Humas Polda Jabar
(Yudi Hidayat/Tim)











