Notification

×

Iklan

Iklan

BALAI TERNAK BINAAN BAZNAS KABUPATEN SUMEDANG

Rabu, Februari 25, 2026 | Februari 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-25T16:42:54Z

 


Jejakinvestigasi.id || Sumedang - Di tengah tantangan mahalnya pakan ternak, inovasi sederhana namun berdampak nyata lahir dari Balai Ternak binaan BAZNAS Kabupaten Sumedang di Kampung Jatigede, Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede. Rudi, peternak mustahik penerima program pemberdayaan, memanfaatkan daun singkong sebagai pakan tambahan bernutrisi tinggi untuk meningkatkan kualitas ternaknya.


Langkah tersebut bukan sekadar eksperimen, melainkan strategi adaptif menghadapi fluktuasi harga pakan sekaligus upaya optimalisasi sumber daya lokal. Hasilnya mulai terlihat. Sebanyak 18 ekor ternak yang terdiri dari 3 ekor bakalan, 5 ekor indukan, dan 10 ekor cempe menunjukkan kondisi kesehatan lebih prima dengan perkembangan bobot yang stabil.


Di kandang sederhana yang berdiri di kawasan Balai Ternak, aktivitas pemberian pakan berlangsung terukur. Rumput segar tetap menjadi pakan utama, sementara daun singkong diberikan sebagai suplemen protein nabati setelah ternak selesai makan. Pola bertahap ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi metabolisme sekaligus mempercepat pertumbuhan, terutama bagi indukan dan cempe yang berada pada fase krusial.


“Daun singkong mudah didapat dan kandungan proteinnya tinggi. Tapi tetap harus dilayukan dulu supaya aman,” ujar Rudi, menekankan pentingnya proses pengolahan untuk menurunkan kandungan asam sianida (HCN) yang bersifat toksik bila dikonsumsi dalam kondisi segar.


Pendekatan yang dilakukan Rudi mencerminkan perubahan paradigma mustahik dari penerima bantuan menjadi pelaku usaha produktif. Pendampingan intensif dari BAZNAS tidak hanya menghadirkan bantuan ternak, tetapi juga transfer pengetahuan terkait manajemen pakan, kesehatan hewan, serta strategi peningkatan produktivitas.


Secara lebih luas, inovasi ini menggambarkan praktik good farming practice berbasis kearifan lokal. Pemanfaatan daun singkong sebagai pakan alternatif menjadi solusi ekonomis sekaligus berkelanjutan, terutama bagi peternak skala kecil yang rentan terhadap kenaikan biaya produksi.


Program Balai Ternak BAZNAS sendiri dirancang sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis zakat produktif. Dengan pendekatan pendampingan berkelanjutan, program ini tidak hanya mendorong peningkatan populasi ternak, tetapi juga menargetkan transformasi kesejahteraan mustahik menjadi muzaki di masa depan.


Di Jatigede, inovasi Rudi menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi tidak selalu lahir dari teknologi mahal. Dari daun singkong yang kerap dianggap limbah, lahir harapan baru bagi keberlanjutan usaha peternakan dan penguatan ekonomi masyarakat desa.



Pewarta. (Mulyana)

×
Berita Terbaru Update