Jejakinvestigasi.id || JAKARTA - Eskalasi konflik di Timur Tengah antara United States dan Iran yang kini melibatkan kepentingan besar China dan Russia telah mengubah lanskap geopolitik dunia secara drastis. Dunia sedang bergerak menuju konfigurasi kekuatan baru yang semakin menyerupai politik blok global. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan penting bagi Indonesia adalah: di mana posisi strategis Indonesia dalam pusaran konflik global tersebut?
"Di tengah badai geopolik global, saatnya Indonesia kembali pada politik luar negeri yang berdaulat", ungkap Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM. berinisial ASH selaku Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional).
Menurut ASH, sebagai negara dengan tradisi diplomasi yang kuat, Indonesia sejatinya memiliki fondasi politik luar negeri yang jelas, yakni prinsip bebas dan aktif. Prinsip ini bukan sekadar slogan historis, tetapi strategi geopolitik yang dirancang oleh para pendiri bangsa untuk memastikan Indonesia tidak terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.
Namun realitas geopolitik hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Konflik yang melibatkan Washington, Teheran, dan potensi dukungan Beijing serta Moskow menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki fase transisi menuju tatanan multipolar. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia tidak cukup hanya menjadi penonton pasif yang mengeluarkan pernyataan diplomatik normatif.
"Dalam kondisi seperti ini, Indonesia harus memainkan peran yang lebih strategis, tidak cukup hanya menjadi penonton pasif yang mengeluarkan pernyataan diplomatik normatif", jelasnya.
ASH memberikan gambaran langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan oleh Indonesia, antara lain;
Pertama, Indonesia perlu menghidupkan kembali diplomasi global berbasis solidaritas dunia selatan. Dalam sejarahnya, Indonesia pernah menjadi motor utama lahirnya Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung yang melahirkan semangat anti-kolonialisme dan kemandirian politik negara-negara berkembang. Spirit Bandung tersebut sangat relevan untuk konteks geopolitik hari ini, ketika banyak negara berkembang kembali berada di bawah tekanan rivalitas kekuatan besar.
Kedua, Indonesia harus memperkuat jalur diplomasi multilateral melalui organisasi internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam dan United Nations. Konflik Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga menyangkut kepentingan umat Islam secara global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk mendorong solusi damai yang adil.
Ketiga, Indonesia harus berhati-hati agar tidak terseret dalam konfigurasi blok geopolitik baru, maka seharusnya Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) ala Trump agar netralitas terjaga. Dalam sejarah hubungan internasional, negara-negara yang terlalu dekat dengan salah satu kekuatan besar sering kali kehilangan ruang kemandirian strategisnya. Politik luar negeri Indonesia harus tetap menjaga jarak yang seimbang dengan semua kekuatan global.
Di sisi lain, konflik Timur Tengah juga memiliki implikasi langsung bagi kepentingan nasional Indonesia, terutama dalam sektor energi dan stabilitas ekonomi global. Jalur perdagangan energi yang melewati Selat Hormuz merupakan salah satu nadi utama pasokan minyak dunia. Jika konflik meluas dan jalur tersebut terganggu, dampaknya akan terasa langsung pada harga energi dan stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
"Karena itu, Indonesia perlu mengembangkan strategi geopolitik yang lebih visioner. Negara ini tidak boleh hanya bereaksi terhadap krisis global, tetapi harus berani membangun inisiatif diplomasi yang mampu memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam percaturan dunia", sarannya.
Di tengah rivalitas kekuatan besar, Indonesia memiliki pilihan strategis: menjadi sekadar penonton dalam panggung geopolitik global, atau kembali memainkan peran sebagai kekuatan moral dan diplomatik dunia seperti yang pernah ditunjukkan dalam sejarah.
"Jika Indonesia mampu menghidupkan kembali semangat Bandung dan prinsip politik luar negeri yang berdaulat, maka di tengah badai geopolitik global sekalipun, Indonesia tidak akan kehilangan arah. Justru sebaliknya, Indonesia dapat tampil sebagai penyeimbang yang membawa pesan perdamaian dan keadilan bagi dunia", pungkasnya.[]
Sumber: ASH
Editor: Tim Redaksi











