Notification

×

Iklan

Iklan

Empat Gunung di Sumedang ini Jadi Lalu Lintas Ghaib, Salah Satunya Jarang Tersentuh Manusia

Selasa, Februari 01, 2022 | Februari 01, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-02-01T14:22:09Z

Jejakinvestigasi.id | Sumedang- Kaum spiritual Sumedang menyatakan adanya empat gunung di wilayah Sumedang, terutama di wilayah penyangga Waduk Jatigede, yang masuk sebagai lintasan atau lalu lintas ghaib.

Empat gunung yang dimitoskan sebagai lalu lintas ghaib tersebut, bahkan disebut oleh para spiritual sebagai paku bumi kekuatan keberadaan Waduk Jatigede.

Lalu lintas ghaib antara empat gunung tersebut bukan hanya lalu lintas mahluk halus, seperti jin dan makhluk astral lainnya, tapi merupakan lalu lintas para leluhur Sumedang dalam membangun kekuatan spiritual pada masanya.

Pemerhati spiritual asal Cipaku, Sumedang, WD Darmawan alias Aki Wangsa menuturkan, empat gunung ini jika dipetakan secara letak, seperti membentuk formasi segi empat. 

Jika dilihat dari filosofinya, empat gunung ini adalah pondasi atau kaki dari wilayah seputar Waduk Jatigede.

Dimana kaki-kaki tersebut disebut sebagai penyangga wilayah.

"Ada lintasan ghaib yang memang harus dijaga atau dirawat oleh semua masyarakat. Karena jika tidak dipelihara secara spiritual akan menyebabkan beberapa kejadian," ujar Aki Wangsa.

Lantas, gunung mana saja yang menjadi perlintasan ghaib yang dimitoskan menjadi kekuatan penyangga Waduk Jatigede.

Pertama kata Aki Wangsa, adalah Gunung Surian, gunung ini berada tepat di pusaran Waduk Jatigede. Banyak cerita rakyat dari gunung ini yang berbau mistik dan jadi mitos hingga kini.

"Gunung ini simbol kekuatan Waduk Jatigede. Berada tepat di tengah Waduk Jatigede. Di gunung ini terdapat makam keramat leluhur kami," kata Aki.

Ia menambahkan dulu tidak sembarang orang bisa masuk ke wilayah Gunung Surian karena aura angkernya. 

Lintasan ghaib dari Gunung Surian, konon biasanya menuju Gunung Jagat. 

Gunung ini berada di wilayah Cibareubeu, Kecamatan Jatinunggal. Kawasan Gunung Jagat bersebelahan dengan kawasan Jatigede.

Terakhir, Gunung Jagat merupakan tempat relokasi hewan dan binatang liar yang berasal dari kawasan hutan, bekas wilayah genangan Waduk Jatigede. Untuk melakukan pemindahan binatang dan hewan dari wilayah kawasan hutan Jatigede ke Gunung Jagat dibantu oleh kekuatan spiritual.

Aki memaparkan, dari Gunung Jagat, selanjutnya lintasan ghaib tersambung ke Gunung Cakrabuana. Gunung ini terbentang dari wilayah Wado, Majalengka hingga Tasikmalaya.

Sejumlah titik di Gunung Cakrabuana merupakan pusat ghaib yang jarang tersentuh manusia.

"Di Gunung Cakrabuana juga ada makam leluhur yang dikeramatkan. Bahkan sering diziarahi oleh orang yang tahu sejarah leluhur," ucapnya.

Gunung terakhir yang dimitoskan jadi perlintasan ghaib adalah Gunung Lingga. Gunung ini terletak di Cimarga, Cisitu.

Bagi masyarakat Sumedang Gunung Lingga adalah bagian dari sejarah. Karena di gunung ini terdapat makam Prabu Tajimalela, yang tak lain adalah raja Sumedang.

Menurut pandangan spiritual, kata Aki empat gunung inilah yang menjadi pusat perlintasan ghaib di Sumedang. Ketika gunung-gunung tersebut dirusak atau ekosistemnya diganggu, akan menyebabkan kerusakan dan akan terjadi bencana baik alam maupun moral.

"Justru untuk itu perlu masyarakat melestarikan gunung-gunung tersebut agar dipelihara, tidak dirusak. Dan jika dari aspek spiritual masyarakat harus menghormati leluhur dengan cara-cara terdahulu yang sering dilakukan para leluhur," tuturnya.***

 (Kabar Priangan.com)
×
Berita Terbaru Update