-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Tubuh Berbaring, Pikiran Mengembara Oleh Yoyon Suryono*

Jumat, Juli 31, 2026 | Juli 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-31T16:03:19Z



Majalengka - jejakinvestigasi.id ;

Di pembaringan yang berbayar, tubuh ini berbaring.

Tempat ini diam-diam mengajarkan bahwa sehat adalah nikmat yang baru benar-benar terasa ketika ia mulai menjauh.

Usia perlahan mengajarkan batas. Hari demi hari, tenaga berkurang. Sementara kehidupan terus berlari tanpa pernah menoleh.

Yang tetap terjaga hanyalah pikiran.

Ia mengembara tanpa peta.

Sesekali singgah pada diri sendiri yang sedang belajar menua. Lalu berjalan ke keluarga yang selalu ingin dipastikan baik-baik saja. Melintas ke pekerjaan yang telah usai. Kepada tabungan yang tak pernah berupa dolar atau emas. Hingga akhirnya bertanya pelan kepada hari-hari esok yang belum tentu ramah.


Di luar ruang perawatan, angka-angka terus bergerak.

Dolar merangkak naik.

Harga-harga ikut bergegas.

Inflasi seperti tak pernah lelah mengejar.


Sementara penghasilan banyak orang tetap berjalan tertatih.

Mungkin memang begitulah pikiran di ruang sunyi.

Ia tak pernah berhenti pada diri sendiri.

Entah mengapa, dari ruang yang senyap ini, negeri terasa begitu dekat.


Negeri yang semakin sulit dibaca dengan logika yang biasa. Mungkin zaman memang sedang berubah terlalu cepat. Namun di balik istilah-istilah besar tentang pertumbuhan dan kemajuan, masih banyak wajah yang menyimpan letih. Masih banyak rumah yang menyalakan harapan dengan cahaya yang mulai redup.


Dalam keheningan itu, terlintas sebuah renungan lama yang entah berasal dari siapa.

Pesannya sederhana: andaikan sejak awal seseorang membangun dirinya sendiri, mungkin keluarganya akan menemukan teladan. Dari keluarga lahir masyarakat yang lebih baik. Dari masyarakat tumbuh negeri yang lebih kuat. Dan siapa tahu, dunia pun ikut berubah.


Bukankah wahyu telah lebih dahulu mengingatkan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."


Dan bukankah kita juga diingatkan agar tidak sibuk menyeru kebaikan kepada orang lain, sementara diri sendiri terlupa?


Barangkali perubahan memang selalu lahir dengan cara yang sunyi.

Bukan dari gemuruh pidato.

Bukan dari ramainya perdebatan.

Melainkan dari satu hati yang bersedia menaklukkan dirinya sendiri.


Infus masih menetes.

Monitor tetap berbunyi pelan.

Pagi masih beberapa jam lagi.

Tubuh sedang belajar menerima batasnya.

Semoga hati tidak.

Semoga harapan juga tidak.


Semoga negeri ini tetap menemukan jalan pulang kepada cita-cita para pendirinya: menjadi rumah yang adil, makmur, dan sejahtera, dalam lindungan rahmat Allah Swt.


Inilah rumah kita. Tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan kelak meninggalkan jejak terakhir. Sebuah rumah yang semestinya memberi ruang bagi setiap anak bangsanya untuk tetap berharap, meski berbeda pandangan, tanpa merasa harus mencari rumah di negeri orang.


Setiap cahaya yang menerangi sebuah negeri selalu berawal dari satu pelita kecil.

Pelita yang lebih dahulu dinyalakan di dalam diri.[]


*) Penulis, 

Budayawan Majalengka

×
Berita Terbaru Update